Rabu, 23 Januari 2013

Menghadapi Teman yang Tidak Mau Berubah

Menghadapi teman yang tidak pernah mau berubah sanggup membuat Anda sendiri menjadi stress. Apalagi jika si teman selalu datang pada Anda untuk mencurahkan segala keluh kesah hatinya, tentu membuat Anda bingung sendiri. Jika tidak ditanggapi Anda takut dia akan tersinggung, namun jika ditanggapi Anda tidak tahu harus berkata apa lagi karena semua saran Anda hanya dianggap angin lalu olehnya.

Inilah yang harus kalian lakukan.

Empati tanpa memihak.
Saat kita datang pada teman dengan keadaan terluka, bukan saran dan pertolongan pertama yang paling kita butuhkan namun perhatian dan kasih sayang! Begitu pula ketika seorang teman datang pada kita, sebagai seseorang yang praktis kita ingin segera mengeluarkannya dari persoalan namun ingat bahwa dia datang pada Anda karena yakin Anda akan menerima dan membuatnya nyaman.

Jadilah pendengar yang baik.
Menghibur teman Anda tanpa ingin tahu apa masalahnya tentu membuat teman Anda merasa tidak nyaman. Jadi Anda perlu menanyakan apa yang terjadi dan biarkan dia bercerita. Berikan kontak mata dan ekspresi yang menunjukkan Anda aktif mendengarkan dia.

Tidak memberikan saran.
Mengingat teman Anda tidak pernah menggunakan saran-saran Anda, maka sebaiknya kali ini Anda tidak memberi dia saran lagi. Bukan berniat menghukum, namun sebaiknya Anda mencari tahu apa sih maunya si teman ini.

PUISI : Kesalahanku

"Kesalahanku"

Langit senja yang indah .
Terlihat jelas sosok bayangmu di atas sana .
Lihatkah kau uluran tanganku ini ?
Tolong raihlah .
Dan kau akan kembali ke sini bersamaku .

Apakah kau lebih senang berada diatas sana ?
Atau apakah kau memang tidak bisa meraih tangan ini ?
Ya, aku mungkin bisa menerimanya .

Tapi, bagaimana dengan wanita tua disebelahku ini ?
Apakah ia bisa bersikap sepertiku ?
Apakah ia tidak akan merindukan buah hatinya,
yang selalu memeluk dan mencium tangannya tiap pagi ?
Apakah ia dapat hidup bersama orang,
yang telah membuat buah hati tercintanya pergi ?
Apakah ia bisa memaafkan orang itu ?

Telah beribu kata maaf yang kusampaikan,
Sambil bersujud dan mencium kakinya .
Tapi, air matanya tak kunjung kering .

Aku paham ,
Sekarang, ia hanyalah wanita malang yang tengah bingung .
Bingung memikirkan untuk apa sisa hidupnya,
Tanpa buah hati sekaligus satu-satunya teman hidupnya .

Ia berkata bahwa ia telah memaafkanku ,
Tapi matanya berkata lain .
Matanya mengatakan bahwa,
Orang jahat yang telah membuat Anaknya pergi,
Sangat tidak pantas untuk dimaafkan .
Ya, Wanita ini tidak akan memaafkanku .

Apa kau juga demikian ?
Menyesal karena telah mempertaruhkan nyawamu,
demi menyelamatkan nyawaku ?
Menyesal karena telah meloloskanku,
dari kobaran Api yang kuciptakan sendiri ?
Menyesal karena kau terjebak oleh kobaran Api,
yang terkesan mencari tumbal ?
Menyesal karena ternyata Aku tidak dapat membalas jasamu ?

Apa aku harus membayar semuanya dengan nyawa pula ?

Kau, Ibumu ..
Tolong katakan apa yang harus kulakukan sekarang .
Jangan diam .
Jangan biarkan pembunuh bodoh sepertiku ini bebas begitu saja .
Hukumlah Aku seberat-beratnya .
Orang bodoh tidak pantas hidup .
Orang bodoh hanya bisa merusak segalanya .

Termasuk jalinan kasih yang telah kau rajut,
Bersama wanita tua yang sangat mencintaimu ini .

PUISI : Aku ingin Dirinya Tau

“Aku ingin Dirinya Tau”

Aku tak mampu berkata..
Aku pun tak mampu mengungkapkan..
Rasanya di dalam hati ini ada rasa takut.

Kadang aku menangis
Kadang aku tersenyum sendiri
Karna teringat akan suatu hal

Kapankah hati ini
Akan mampu mengungkapkannya??

Mungkin perasaan ini
Akan aku simpan dalam hati
Entah kapan perasaan ini akan terungkap
yang aku harapkan hanyalah Dia..

Di dalam hati ini
Sudah tak mampu membendung
Kata-kata yang tersimpan selama ini

yang aku inginkan
yang aku harapkan
Dia tau perasaanku
Dan Dia tau maksudku yang sebenarnya..

PUISI : Selamat Jalan Untukmu Sayang

“Selamat Jalan Untukmu Sayang”

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu..
Karena,
aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
aku sangat tahu itu..

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong tak bernyawa

Pada airmata yang jatuh kali ini,
aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir,
pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh,
tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu,

tanpa mereka sadari,
bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
kau telah ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
semoga kau tenang bersama-Nya

PUISI : Doa Sang Bumi

"Doa Sang Bumi"

Sejuk aroma sejuk dalam hisapan..
Mereguk ke dalam rongga paruku hingga sesak..
Membasahi setiap keringnya kisi hati..
Mengusap semua nestapa dan hibur kelam yang ada..
Membuat kita kian terlena..

Begitu dalam dan sangaaat dalam..
Membuat lubang angkara tanpa terasa..

Kita hanya bisa berdecak kagum..
Saat bumi berpanorama asri..
Saat angin semilir melambaikan setiap pepohonan nan hijau..
Dan kita terbuai tidur hingga lengah..
Akan amanah yang harus kita jaga..

Demi gemerlap suatu kisi kehidupan..
Angkara terukir segaris, setitik, dan kelamaan kian menggunung..
Entah pada sang alam ataukah manusia dan mahluk hidup di sekitarnya..

Mencontreng keelokan paras sang bumi..
Merobek setiap koreng yang bernanah..
Dan terus membuat palung yang begitu curam..

Lihatlah tanah kian mengkerut..
Mengernyit dengan gemeretak lelah..
Menahan angkara manusia di atas perutnya..

Peluh tanpa dirasa …
hingga gembur nuansa kian nyata..
Aku perih, pedih, menangis, seperti teriris sembilu..
Sadarkah aku telah tua dan renta ?
Menahan semua ambisi dan angkara manusia …
Terinjak-injak dan terus menusukku tanpa nurani..
Aku kan terbelah …
Lambat laun …

Maafkan aku sang manusia
Jikala kiamat datang melalui diriku..
Tanpa dapat ku halangi dan ku sangkal..
Aku telah renta setelah sekian abad aku berputar..

Aku tak lagi baik untukmu …
Aku kan gersang tak lama lagi …
Aku semakin panas …

Ku mohon … dan kumohon …
Tentang belas kasihan melalui belai kasihmu..
Menuai kedamaian di atas perutku..